Gizi merupakan suatu hal yang penting dalam menjaga keberlangsungan hidup generasi suatu bangsa. Dimana faktor penentu baik buruknya berasal dari berbagai sektor yang ada. Mulai dari pelayanan kesehatan, keseimbangan ekonomi, politik dan sosial termasuk di dalamnya bencana alam.

Status Gizi suatu bangsa dapat dinilai salah satunya dari angka IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Di indonesia sendiri pada tahun 2003 berada pada urutan ke 112 dari 174 negara dan pada tahun 2015 ini menduduki posisi 110 dari 187 negara. Dari hasil ini dapat kita lihat bersama bahwa telah terjadi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia meskipun tidak begitu drastis. Namun jika pemerintah terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas dari masyarakatnya dengan menurunkan kesenjangan antar daerah mulai dari sektor ekonomi melalui pembangunan, pelayanan kesehatan dan pendidikan maka angka IPM-nya dapat terus melaju pesat.

Sebagai contoh jika ekonomi suatu daerah membaik dengan pembagunan yang stategis maka hal ini akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sehingga dapat menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan sekaligus. Jika hal ini tertangani maka asupan/ketersediaan makanan utuk setiap rumah penduduk dapat berkecukupan. Jika ketiga hal ini telah tercapai namun tidak di sertai dengan pendidikan dalam hal ini pengetahuan yang baik terkait pengolahan makanan dan pelayanan kesehatan dalam hal ini pemeliharaan kesehatan maka sesungguhnya perbaikan status gizi masyarakat tidak akan tercapai.

Mengingat penyebab gizi kurang terdiri atas penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung gizi kurang adalah makanan tidak seimbang, baik jumlah dan mutu asupan gizinya, di samping itu asupan zat gizi tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara optimal karena adanya gangguan penyerapan akibat adanya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah kurang baiknya pola pengasuhan anak terutama dalam pola pemberian makan pada balita, kurang memadainya sanitasi dan kesehatan lingkungan serta kurang baiknya pelayanan kesehatan.

Maka dari itu sangat di perlukan adanya konsistensi pemerintah dalam hal meningkatkan mutu layanan kesehatan di tingkat layanan primer yang disertai dengan peningkatan promosi kesehatan di tiap-tiap rumah penduduk di berbagai daerah. Perlu kita ketahui bersama bahwa makna promosi kesehatan menurut Green (1984) promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.

Lebih sederhananya lagi bahwa Promosi Kesehatan adalah upaya perubahan/perbaikan perilaku di bidang kesehatan disertai dengan upaya mempengaruhi lingkungan atau hal-hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perbaikan perilaku dan kualitas kesehatan, serta peningkatan peran kemitraan yang dilandasi oleh kesamaan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling memberi manfaat (mutual benefit). Kemitraan ini dikembangkan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat, juga secara lintas program dan lintas sektor.

Jika penatalaksanaan mulai sektor ekonomi hingga peromosi kesehatan ini berlangsung di berbagai daerah yang ada di Indonesia maka permasalahan menganai Gizi Buruk, AKI (angka Kematian Ibu) dan AKB (angka Kematian bayi) dapat menurun.

Namun permasalahan lain yang saat ini timbul menurut dr. Oryzati Hilman,MS.c,CMFM,Ph.D selaku Pakar Nasional Ilmu Kedokteran Keluarga sekaligus dosen tetap Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengatakan bahwa “AKB (angka kematian bayi) dan AKI (angka kematian Ibu) masih menunjukkan jumlah yang tinggi meskipun terjadi peningktan jumlah spesialist obsgyn di Indoesia. Hal ini di sebabkan pemerintah yang dulunya masih fokus pada layanan sekunder”.

Maka dari itu menurut dokter yang sering di sapa dr. Icha ini sudah saatnya indonesia melakukan pembaharuan dalam hal layanan kesehatan, yang mana layanan kesehatan yang di idam-idamkan adalah perbaikan kualitas dari layanan primer melalu program DLP (dokter Layanan Primer) yang sedang di rintis oleh pemerintah saat ini. Yang mana kompetensinya dianggap jauh lebih mampu mengatasi permasalahn-permasalahan kesehatan yang ada di komunitas. Semoga saja program ini dapat segera terealisasi dan memberi manfaat yang besar dalam pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia.

Dari semua yang telah saya paparkan ini menunjukkan bahwa permasalahn gizi di Indonesia merupakan suatu hal yang kompleks dan tidak bisa membaik tanpa adanya kontribusi dari berbagai element masyarakat. Sebagai Mahasiswa Kedokteran saya hanya ingin berpesan bahwa Satu hal yang perlu di pupuk di dalam hati nurani kita mulai hari ini hingga nanti adalah “Pasien sehat, dokter bahagia”.

Mengapa demikian?, karena salah satu yang menyebabkan penurunan indeks kesehatan masyarakat adalah dokter-dokter yang lebih fokus terhadap kepentingannya sendiri, yang tiada henti mempertebal kantongnya sendiri, yang merasa bahagia di saat kliniknya ramai akan pasien-pasien yang kesakitan. Inilah salah satu contoh dokter-dokter yang pastinya akan menolak jika ditempatkan di desa atau daerah-daerah perifer Indonesia, padahal sesungguhnya pekerjaan dokter  tak lain hanyalah tentang sebuah pengabdian.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *